Jumat, 25 Januari 2013

Mentari di Ufuk Timur



Setiap saat ku berdiri di tempat ini, selalu ada dirinya di tepi pesisir ini. ingin ku mendekati hanya untuk melihat wajahnya, namun selalu saja tak berhasil. ketika ku dekati, ia seperti tahu ku menujunya. aku selalu kehilangan bayangannya. entah apa yang terjadi, terkadang ku tuliskan di daun-daun yang berguguran, namun tetap tak ada jawaban. Aku merasa putus asa hingga akhirnya ku putuskan tuk pergi, dan berhenti.
ternyata bukan aku yang berhenti, namun ia yang pergi dan menjauh, aku tak bisa melihatnya lagi. aku seperti kehilangannya, walaupun tak pernah sedikitpun ku lihat wajahnya. Hari, bulan, dan juga tahun telah kulewati. Menanti nya disini. Aku tak mengerti, mengapa ku bersikap seperti ini. Namun hanya untuk melihatnya saja cukup bagiku.

Ku cabik dedaunan yang ku pegang, seperti meronta waktu itu. Menyisakan waktu yang terbuang, dan tanpa arti.  Tepat habis daun tak bersalah itu, ku habiskan pula waktu ku disini. Mungkin memang tak akan kembali dirinya disini. Ku lihat diary tentangnya disini, tanpa arti…tak ada harapan, hanya khayalan.
Ketika ku berbalik arah, tepat dihadapanku. Ia melihatku. Bukan lagi di tepian pesisir namun ia berdiri beberapa meter dihadapanku. Tak ada ucapan, aku hanya tersenyum melihatnya, tersenyum karena ku tahu ia orangnya.

Tak ada yang berubah, sungguh ia yang ingin ku lihat. Sungguh ia yang ku tunggu selama ini. Aku pun mendekatinya dan ingin ku serahkan kisahku di buku ini, namun tak sampai ku ditempatnya berdiri ia memberikan sebuah box ungu muda, persis dengan kesukaanku. Tak sampai ku membuka dan berbincang dengannya ia pergi, secepat waktu itu tanpa meninggalkan satu kata pun untukku.
Ku lihat bayangannya yang pergi di selimuti senja sore ini. Menyesal, namun ku rasakan bahwa angin telah berbisik dalam telingaku. Ku akhiri hari ini..

Belumlah berani membuka box ini entah apa isinya, aku tak pernah tahu namanya, bahkan wajahnya pun baru sakali ku lihat. Namun benarkan ini cinta? Seperti inikah cinta?
Ku rasa bukan, cinta bukan seperti ini. Aku tak tahu dan tak pernah tahu makna cinta. Aku hanya cinta Allah, rasul, keluarga, dan juga umat islam. Namun rasa ini berbeda dengan ikhwan itu.
Ku hanya mengaguminya hingga hatiku beku, sedih, dan juga tersendiri. Aku menantinya tanpa tahu siapa dia, aku menunggunya tanpa sadar apa ia juga menungguku. Waktu-waktu yang kurasa sia-sia telah kuhabiskan. Dan kini tepat dihadapanku benda apa ini.

Prasangka buruk selalu saja memenuhi benakku, mungkin didalamnya ini undangan pernikahannya, mungkin ini souvenir pernihakannya, atau mungkin ini hanyalah kotak kosong dari penantianku yang tak berarti.
Kuberanikan perlanan membuka dari pita bunga putih di atasnya, satu demi satu simpulnya ku lepaskan. Ku lihat satu buah buku bacaan. Ternyata biografi hidupnya. Ku baca satu persatu kata di dalam buku ini tanpa sedikitpun melewatkannya

Lama ku memahami bab X dalam biografinya, ternyata telah ada satu nama dalam hatinya. Telah lama wanita itu bersemayam dalam relung hatinya. Lantas, ada apa denganku. Telah jelas semua penantian kesia-siaan diri ini.

Ku hanya meratapi diri, menyia-nyiakan waktuku selama ini. Setelah diabaikan, dan kini ku tercampakkan. Rasanya sungguh menyedihkan diri ini. Tetapi apa yang bisa ku perbuat.

Aku tak sanggup untuk meneruskan membacanya, yang hanya membuat hati terkoyak. Ku pergi ke tepian hilir yang sudah lama tak pernah ku kunjungi lagi. Ku bermain dengan air dipermukaannya menghapus wajah yang tergenang air mata. Dalam hati ku katakan jangan lagi menangis,sambil mengusap wajahku yang tercermin dalam air. Sudah cukupkan akhir dari harapanmu ini. Kini kau lihat wajahmu layu dan tanpa semangat. Tutuplah hari ini, seperti yang pernah kau tutup waktu itu. Kembalikan hidupmu. Lihatlah bahwa masih dunia ini indah jangan kau lewatkan dengan mengurung pikiranmu. Pergi dan terbanglah, kejar mimpimu sampai kelelalah itu yang lelah mengejarmu, sampai kaki mu tak lagi kuat untuk mengayuh sampai raga tak lagi bisa kau tegakkan. Tapi simpanlah dalam hati bahwa bara semangat masih bersemayam dalam hati dan jiwa.

Sekali lagi ku tinggalkan buku yang telah kupegang di tempat ini. Berharap angin melenyapkan semuanya ditempat ini….
tepat ketika ku terbangun mengusap air yang tersisa, bayangnya tepat di ujung jalan  ini.......

Tidak ada komentar: